Label

Sabtu, 16 Maret 2013

Ucapan Yang Tertunda [Inspirated by @GabyJKT48]

                                               UCAPAN YANG TERTUNDA

    Cinta itu seperti kupu-kupu, dikejar ya tambah jauh. Tapi kalo dibiarin pergi akan datang sendiri sama seperti kisah yang gue alami sendiri, tapi gue terus mengejarnya sampai dapat, meski lelah tapi ini demi cinta. Gue udah mencintai seorang cewek sejak pertama gue ngeliatnya, udah gue tunjukin gue tunjukin semua perasaan gue, segala perhatian pun udah gue beri, tapi dia tak pernah peka terhadap akan semua itu. Mungkin karena gue belum mengutarakan perasaan yang sesungguhnya. Cinta itu kayak hukum mati, kalo nggak ditembak ya digantung.
    "Gaby Gaby Gaby." Gue bersorak setelah sampai didepan rumah pujaan hati gue selama ini. Ya benar namanya Gaby, dan lengkapnya bernama Gabriela Margareth Warouw. Gue biasanya memang selalu menjemput Gaby untuk pergi ke sekolah bareng dengan sepeda kesayangan gue.
    "Iyaaa." Gaby keluar dari dalam rumahnya lalu naik ke sepeda dan duduk dibelakang. Kami pun sampai disekolah, gue dan Gaby segera masuk kelas.
    "Ah bagi Gaby kami hanya teman sekelas, yang jalan pulangnya searah." Ucap gue dalam hati sambil menikmati matahari pagi yang menyinari ruang kelas, hawa tepat untuk terbuai lamunan, melihat Gaby yang duduk didepan gue.
    "Gaby Gaby, gue suka loh sama kamu." Bisik gue dari belakang. Gaby tampak sibuk mencatat materi pelajaran.
    "Huuuft hanya butuh sedikit keberanian." Ucap gue dalam hati sambil memperhatikan Gaby. Bel pulang pun berbunyi, gue dan Gaby kembali pulang dengan bersama.
    "Gaby, nggak apa-apa kan naik sepeda terus sama gue?." Gue bertanya kepada Gaby saat perjalanan pilang.
    "Nggak apa-apa dong, malah seru banget tau kalo naik sepeda kayak gini hehe." Gaby tertawa kecil.
    "Syukurlah kalo begitu, tapi kalo Gaby nggak mau bareng, tinggal bilang aja ya." Gue membalas kepada Gaby sambil tersenyum.
    "Iyaaa." Jawab Gaby singkat tapi pasti. Setelah sampai dirumah, Gaby langsung turun.
    "Makasih ya udah mau nganterin pulang." Ucap Gaby sambil tersenyum manis kepada gue.
    "Iya sama-sama, besok kan hari Minggu. Gaby mau nggak nemenin gue jalan-jalan pake sepeda?." Ucap gue sambil tertawa kecil sekaligus berharap besar agar Gaby mau.
    "Hmmm oke deh." Gaby tersenyum lalu masuk ke dalam rumahnya. Gue pun tersenyum bangga sambil mendorong sepeda gue pulang ke rumah.
    "Dasar cinta." Ucap gue didalam hari sambil tersenyum.
   
    Esok paginya gue bangun lebih cepat dari pada biasanya. Gue buka jendela kamar dan gue hirup udara pagi yang sangat segar. Lalu gue ambil handuk dan segera mandi, bersiap untuk mengajak Gaby jalan-jalan.
    "Tumben udah rapih, mau kemana?." Tanya kakak gue sambil memakan sarapannya.
    "Gue mau pacaran dulu haha." Gue membalas dengan enteng.
    "Uhukkk pacaran? Kamu itu nembak aja nggak berani, pacaran sama siapa? Sama sepedamu? Haha." Ledek kakak gue. Gue mengacuhkannya dan segera mengambil sepeda lalu pergi menjemput Gaby.
    "Mungkin  benar kata kakak, gue mau pacaran sama siapa? Gaby? Nembak aja nggak berani. Gaby juga sih nggak pernah peka sama perasaan gue." Gue menceloteh dalam hati sambil mengayuh sepeda. Sesampainya dirumah Gaby, gue langsung masuk ke halaman rumahnya dan mengetuk pintu rumahnya. Nggak tunggu lama kemudia Gaby keluar rumah.
    "Pagi Gaby yang cantik." Gue menyapa Gaby pujaan hati gue.
    "Haha pagi juga yaaa." Gaby tertawa kecil.
    "Hayu naik." Gue mengajaknya.
    "Iya yu yu yu." Balas Gaby. Kami berjalan keluar naik sepeda. Nggak tau kenapa kaki gue sangat terasa sakit. Gue harus kayuh sepeda gue dengan perlahan.
    "Awww." Rintih gue karena kaki ini memang sangat terasa sakit.
    "Kamu kenapa? Ada yang sakit?." Tanya Gaby.
    "Ah apa? Nggak kok, sehat dan kuat." Gue membalas berbohong sambil berbohong, tapi benar-benar sakit.
    "Kalo memang kamu sakit, biar aku yang gantiin ngayuhnya sini." Ucap Gaby perhatian.
    "Enggak kok Gab, gue bisa kok." Gue membalas dengan semangat agar Gaby percaya.
    "Ya udaaah." Balas Gaby.
    "Nggak apa-apa gue mah, asal kamu senang. Sakit ini bisa ditahan kok." Ucap gue dalam hati nggak berani berucap sambil mengayuh sepeda agak cepat.
    Setelah 15 menit bersepeda, akhirnya gue dan Gaby beristirahat.
    "Huuuft, panas ya." Ucap Gaby yang benar-benar kepanasan.
    "Gaby haus nggak?." Gue bertanya kepadanya.
    "Iya sih sedikit haus." Ucap Gaby smabil mengipas-kipas badannya dengan tangan.
    "Ini gue punya minum, Gaby aja gih yang minum." Ucap gue sambil memberikan sebotol minuman yang gue bawa, ya hanya satu. Tapi nggak apa-apalah gue berikan aja kepada Gaby, melihat wajahnya rasa haus gue udah menghilang.
    "Kamu gimana?." Tanya Gaby sebelum meminum air yang gue beri.
    "Gue nggak haus kok, jadi kamu aja yang minum air itu." Ucap gue sambil tersenyum. Gaby pun tersenyum dan meminum air itu. Gue memandang wajah Gaby.
    "Matahari yang gue dambakan, terlalu silau. Karenanya gue berpura-pura nggak suka, dan gue pun menjadi bersikap dingin. Gue memandang dari kejauhan, mungkin cinta ini belum dia rasakan. Hanya milik gue..." Gue berlantun didalam hati sambil memandang wajah Gaby yang terkena sinar matahari siang yang mulai agak memanas.
    "Gaby Gaby." Gue memanggil dengan nada pelan. Gaby pun menoleh ke arah gue.
    "Iya kenapa?." Tanya Gaby.
    "Eh tunggu-tunggu, kaki kamu berdarah loh." Ucap Gaby sambil mendekat ke arah kaki kiri gue yang memang berdarah.
    "Duh gimana nih? Kita pulang aja yu. Aku yang bawa sepedanya." Ajak Gaby dengan wajah panik.
    "Ini nggak apa-apa kok Gab." Ucap gue santai agar Gaby nggak panik.
    "Nggak apa gimana? Orang kamu berdarah banyak gitu." Gaby makin panik.
    "Aduh Gaby, udah-udah duduk aja." Ucap gue nyantai.
    "Oh iya." Gaby mengeluarkan tisu dari saku celananya. Lalu mengusap darah yang mengalir di kaki gue.
    "Ah cinta". Ucap gue dalam hati.
    "Jadi ini yang bikin kaki gue sakit dari tadi." Ucap gue dalam hati. Gaby masih mengusap-usap kaki gue yang berdarah. Gue kembali menatap wajahnya yang kini sangat berada dekat dengan gue. Rambutnya yang panjang terurai begitu aja. Beberapa poni kecil menghiasi wajahnya yang lembut.
    "Jika kau sadari akan pandangan gue kepada dirimu jantungku pun berdegup kencang dan akan meledak. Mengapa perasaan gue berdetak begini, gue ingin bertanya kepada rumput yang bergoyang." Lantun gue didalam hati.
    "Udah deh, masih sakit?." Tanya Gaby.
    "Udah nggak kok, kalo liat wajahnya Gaby sakitnya langsung hilang seketika." Ucap gue gombal.
    "Hahaha ada-ada aja kamu ini." Gaby tertawa kecil dan kembali duduk disamping gue. Matahari makin tinggi, cuaca makin panas.
    "Gaby Gaby." Kembali gue memanggil namanya dengan nada rendah.
    "Iya kenapaaa?." Jawab Gaby sambil menoleh ke arah gue.
    "Jadi gini, gue mau kasih tau kamu kalo gue..."
    "Pause dulu, kita pulang yu, udah siang nih. Kaki kamu juga harus segera diobatin nanti dirumah biar nggak infeksi." Gaby memotong pembicaraan gue dan bangkit dari duduknya.
    "Tapi..." Balas gue.
    "Ayo berdiri dong." Gaby mengulurkan tangannya kepada gue. Gue pegang tangannya yang lembut dan gue bangkit dari tempat duduk.
    "Aku aja ya yang bawa sepedanya, kaki kamu kan masih sakit." Pinta Gaby.
    "Tapi gue masih bisa Gab."
    "Nggak usah, kamu duduk yang manis aja dibelakangku. Aku aja yang bawa sepedanya." Gaby tersenyum kepada gue. Gue dan Gaby pun naik, dan Gaby mulai mengayuh sepedanya.
    "Mungkin bagi diri gue, dirimu yang terakhir. Tidak menyadari apapun, ucapan ini tertunda dari belakang." Ucap gue dalam hati sambil memperhatikan punggung Gaby dan rambutnya yang indah.
    "Oh mungkin ini ucapan gue yang tertunda, padahal gue ingin mengutarakan kepada Gaby bahwa gue sangan mencintainya." Gue berucap didalam hati dan memutar-mutar dalam otak disepanjang jalan pulang.

                                                                   ***

Writer : Zaky Yusril R (@Zakyyrais)
Inspirated by GabyJKT48

                                                  THANKS YOU FOR READING

Tidak ada komentar:

Posting Komentar