Label

Selasa, 19 Maret 2013

Halte Depan Sekolah [Inspirated by @Nadila_JKT48]


                                               HALTE DEPAN SEKOLAH

    Pagi ini aku duduk disebuah halte menunggu angkutan umum datang. Rasanya aku udah kesiangan untuk pergi ke sekolah, pasalnya hari ini sudah menunjukan pukul 7.23 pagi. Nggak tau kenapa, aku lebih memilih sekolah yang jauh dari rumah. Padahal ada yang lebih dekat dengan rumahku, yaitu tepat dibelakang halte yang sedang ku duduki ini. Ada sebuah SMP yang Berstandar Internasional. Tapi ya udahlah, orang toh semua sekolah sama aja. Asalkan kita bisa menangkap pelajaran dari gurunya aja.
    Tak lama itu angkutan umum yang menuju ke sekolahku pun datang, aku pun bergegas naik. Saat udah duduk, aku melihat ke arah lapangan sekolah yang berada dibelakang halte tadi. Aku melihat seorang cewek yang sebaya denganku.
    "Oh my God, manis sekali wajahnya." Ucapku didalam angkot.
    "Siapa dek? Saya?" Kata si supir angkot ke GR-an. Aku hanya nyengir kuda mendengar perkataan si supir angkot dan jangan-jangan supir itu homo lagi, ih gilaaa. Mobilpun mulai berjalan.
    Kurang lebih 10 menit aku tiba disekolah. Benar aja dugaanku, aku terlambat dan hari sudah menunjukan pukul 8.00.
    "Ah sial!" Ucapku sambil berjalan ke gerbang sekolah. Aku melihat satpam sekolah yang pagi-pagi masih tertidur.
    "Mau jadi apa negara ini?" Ucapku menirukan kata-kata kepala sekolahku jika melihat muridnya bolos dan terlambat.
    Nggak ada jalan lain. Ya udah aku berusaha meloncati gerbang sekolah yang cukup tinggi, namun sangat mudah bagiku. Karena sudah biasa terlambat dan melihat temanku yang selalu menaiki gerbang jika terlambat. Aku pun sampai dihalaman sekolah, pak satpam masih tertidur pulas. Aku segera berlari ke ruangan kelasku.
    Sesampainya dipintu kelas, "maaf bu saya telat, tadi angkotnya mogok. Dan nggak ada angkot yang lewat lagi bu. Ya tadi saya tolongin supir angkotnya dulu bu." Ucapku memberikan alasan yang sangat pasaran, karena jika terlambat aku selalu berucap seperti itu. Ya ampun.
    "Kamu lagi! Ya udah masuk." Ucapnya guru IPSku, yang terkenal killer. Aku pun duduk sambil tersenyum-senyum, soalnya temen kelas pada memperhatikanku.
    Dikelas ini aku membayangkan cewek yang ku lihat tadi disaat angkot akan berjalan. "Oh siapa kah dia?" Ucapku didalam hati.
    Bel pulang pun berbunyi. Aku mrapikan semua peralatanku dan pergi keluar kelas. Aku merasa sangat penasaran dengan cewek itu yang ku jumpa tadi pagi.
    "Cantik, mengagumkan, dan indah sekali." Ucapku didalam hati dan segera berlari mencari angkot dan naik angkot untuk pulang. Mana tau aku bisa bertemu cewek tadi.
    Jodoh memang nggak kemana, meski nggak kemana tapi tetap aja susah ditangkap. Tepat sekali. Saat aku turun didepan Halte dekat sekolahnya, aku melihat cewek itu udah pulang tadi bersama teman-temannya.
    "Aduh senyumannya, nggak nahan." Ucapku dalam hati. Dia berdiri 5meter dari halte.
    "Kesanga nggak ya?" Pikirku beberapa saat. Karena tidak ingin mati penasaran, maka aku mendekatinya.
    "Ehem." Aku mulai sedikit basa-basi seperti di film-film. Cewek itu menoleh.
    "Hai." Sapaku sambil tersenyum. Ternyata *WOW* makin dekat wajahnya makin cantik.
    "Iya?" Balas singkat sambil tersenyum juga.
    "Mau pulang ya?" Aku melontarkan pertanyaan yang aneh.
    "Ya jelaslah dia mau pulang. Eh tapi mungkin aja mau ke salon dulu gitu." Dua elemen sedang bertarung dipikiranku.
    "Iyaaa." Jawabnya kembali.
    "Ohehe." Aku hanya tertawa kecil. Aku ingin menanyakan namanya, tapi masih ragu dan bimbang. Ingin melihat nametag dibajunya, ah takut disangka ngapain lagi, bimbang banget disitu tuh.
    "Nama kamu siapa?" Tanyakku kepada cewek itu. Tapi sayang banget, saat aku melontarkan pertanyaan itu. Mobilnya datang menjemputnya.
    "Sial." Ucapku sambil menendang botol minuman. Cewek itu masuk mobil dan tersenyum padaku.
    "Ku tunggu lagi kamu di Halte depan sekolah ini." Aku berteriak seketika mobil itu berjalan.

    Keesokan harinya, aku menjadi bersemangat untuk pergi ke sekolah. Aku berjalan ke halte depan sekolahnya cewek kemarin. Aku berusaha mencarinya diantara kerumunan para siswa. Tapi sayang aku tidak menemukannya, tapi tak lama kemudian mobil itu yang kemarin menjemputnya berhenti 5 meter dari halte ini. Dan cewek cantik itu pun turun.
    Aku memandang wajahnya, dan dia menolah ke arahku. Aku tersenyum, dan dia pun tersenyum. Dan kami berdua saling menatapi dan saling tersenyum. Ini bukan film india loh haha, tapi ini realita.
    "Senyumannya itu loh yang nggak nahan!" Pujiku dalam hati. Dia masih tersenyum kepadaku. Dan aku masih terpana melihat wajahnya.
    "Gila!" Ucapku dalam hati, cewek itu berlalu. Aku pun pergi ke sekolah.
    Aku sampai disekolah, kali ini aku beruntung banget karena tidak terlambat, jika masih terlambat.
    "Mau jadi apa negara ini?" Aku melangkah melewati koridor sekolah menuju kelasku.
    Perjalanan dimulai, tapi aku malah salah fokus. Aku sedang memikirkan cewek yang selalu ku temui di halte depan sekolahnya.
    "Ah your make me smilling smilling alone." Ucapku dalam hati sambil smilling smilling alone.
    Pelajaran dikelas pun usai, sekolah hari ini selesai. Seperti kemarin, aku kembali buru-buru keluar dan segera pergi ke halte depan sekolah cewek kemarin yang masih membuatku penasaran.
    "Mari menunggu." Ucapku dalanm hati sambil duduk dihalte. 10 menit aku menunggu dan akhirnya lagi-lagi cewek itu berdiri 5 meter dari halte tempat ku berada,
    "Jodoh enggak kemana." Aku berdiri dan mendekatinya.
    "Kamu lagi." Ucapnya saat aku mendekat.
    "Hehe aku lagi ya?" Balasku sambil tersenyum. Dan dia pun hanya tersenyum kecil sambil melihat jam bewarna merah dan bergambar tim sepak bola Arsenal yang ada ditangannya.
    "Nama kamu siapa?" Aku mulai memberanikan diri untuk bertanya.
    "Namaku? Buat apa kamu menanyakan namaku?" Balasnya.
    "Kan kalo kita ketemy lagi jadi aku bsa nyapa kamu pake nama." Ucapku mulai malu-malu.
    "Haha iyadeh, namaku NADILA CINDI WANTARI. Kamu boleh panggil aku NADILA." Jawabnya sambil tersenyum kepadaku.
    "Nadila, nama kamu indah banget seperti pemiliknya." Pujiku kepadanya.
    "Iya makasih ya." Nadila tertawa.
    "Enggak dijemput Nad?" Tanyaku.
    "Enggak tau nih, kayaknya sih enggak deh. Soalnya udah jam segini masih juga belum dateng." Nadila agak cemberut.
    "Gimana kalo kamu pulang bareng aku aja Nadila?" Tawarku kepada Nadila.
    "Boleh tuh boleh." Nadila menjawab sambil tersenyum.
    "Eh tapi aku nggak bawa kendaraan." Aku agak kecewa.
    "Nggak apa-apa kok, nggak masalah. Kita jalan aja, didepan ada cafe yang asik buat minum jus. Kamu mau nggak nemenin aku?" Usul Nadila.
    "Wah boleh tuh Nad, ya mau banget dong nemenin kamu. Masa sih enggak." Kamipun berjalan bersama. Aku berjalan disamping Nadila. Rasanya waw sekali.
    "Nah disini tempatnya." Kata Nadila. Kami sampai disebuah cafe.
    "Ayooo." Nadila menari lengan kananku.
    Kami masuk ke dalam dan memesan dua gelas jus. Sambil menunggu, aku dan Nadila ngobrol sejenak. Jus yang kami pesan pun datang.
    Nadila melirikku dan aku nggak menegerti maksudnya. Tapi itu sukses membuatku salah tingkah. Nadila tersenyum kepadaku, aku memasukan cream cokelat ke jus milik mova. Tapi dia kembali melirikku.
    "Duh jangan diliatin gitu dong Nad." Ucapku dalam hati. Dan Nadila segera meminum jus miliknya.
    "Aduh aduh, yaaah tumpah." Jus milik Nadila tumpah mengenai baju, tas, dan tangannya. Dan aku pun segera mengambil tisu dimeja ini. Dan mengelap baju seragamnya, tas, dan tangannya.
    "Oh senangnya miliki perasaan ini, ku sangat merasa beruntung." Ucapku didalam hati sambil mengelap tangannya yang sangat halus.
    "Hati-hati ya Nadilaaa." Ucapku kepada Nadila. Nadila hanya tersenyum. Wah jangan-jangan jusnya Nadila tumpah gara-gara merhatiin aku haha, aku pun ke GR-an.
    Setelah itu kami keluar dari cafe itu. Ternyata Nadila sudah ditunggu supirnya di depan cafe, maka pulanglah Nadila duluan dan aku berjalan pulang ke rumah.
    "Oh the best day." Ucapku sambil melihat mobilnya.
   
    Hari demi hari, aku dan Nadila makin dekat. Setiap aku selalu bertemu dengan Nadila di halte depan sekolah Nadila. Tiap pulang sekolah aku juga selalu menunggu Nadila di halte depan sekolahnya untuk mengajaknya pulang bersama atau sekedar jalan-jalan biasa.
    Siang ini cukup terik. Aku kembali duduk di halte depan sekolahnya untuk bertemu dengan Nadila. Niatnya hari ini aku ingin  mengajaknya jalan-jalan. Hari ini pun aku membawa sepeda, supaya nanti Nadila tidak lelah jika jalan kaki terus. 15 menit aku menunggu Nadila, tapi dia tak kunjung datang. Aku setia nunggu dia, padahal hari ini aku ingin memberi boneka ke dia. Boneka teddy bear untuk Nadila.
    Aku berjalan lesu dengan penuh harapan ke rumahku. Sekarang Nadila berlari-lari dalam pikiranku.
    "Dimana Nadila? Kemana Nadila? Padahal kami udah janji." Aku bertanya-tanya dalam hati.
    Sialnya adalah sampai saat ini aku tidak pernah tau dimana rumah Nadila, bahkan nomer handphone nya juga aku tidak punya.
    "Sekarang kemana aku harus mencari Nadila?" Aku makin lesu dan kesepian.
    "NADILA! I miss you so bad"

    Esok paginya aku berangkat lebih awal. Agar nanti juga bisa bertemu dengan Nadila lebih cepat di hakte ini. Ku kayuh pedal sepedaku ini dengan cepat.
    "Huuuft." Aku turun dari sepeda dan duduk di halte sambil berharap bisa bertemu dan melihat senyumnya Nadila pagi ini. Aku pun menunggu hingga pukul 7.31 pagi, Nadila tidak datang juga. Padahal biasanya jam 7.00 pagi Nadila udah datang.
    Hancur sudah semua harapanku akan mendapatkan senyum Nadila pagi ini, ku kayuh sepedaku perlahan ke sekolah. Semangatku benar-benar menurun drastis. Persaan galau pun menghampiriku.
    "Ada apa dengan Nadila?" Tanyaku dalam hati.
    Setelah jam pulang sekolah usai, aku kembali ke halte depan sekolah Nadila. Diaman aku dan Nadila pertama kali bertemu. Aku hanya bisa berharap dapat bisa bertemu dengan Nadila, meski hanya sekejap mata.
    "Nadila, Nadila, Nadila, Nadila, Nadila." Hanya nama Nadila yang selalu ku ingat. Sampai akhirnya aku sampai didepan sekolahnya Nadila.
    "Nadila! Dimana sih kamu?" Aku mulai merasa risih.
    Kembali ku tunggu Nadila sampai sekolahnya sepi. Nadila tak kunjung datang. Nadila tak juga muncul. Aku tak bangkit dari duduku.
    "Apa yang bisaku lakukan? Bagaimana bisa ku lanjutkan hidupku? Jika aku masih mencintaimu." Ucapku pelan. Hujan pun turun, tapi tetap aku tetap diam di halte depan sekolan Nadila.
    Tiba-tiba seorang polisi berhenti tepat didepanku. Dan berjalan ke arahku.
    "Apa kamu butuh tumpangan nak?" Apa yang kamu tunggu disini? Hari ini udah hampir sore nak." Ucap polisi tersebut.
    "Tidak pak, aku disini sedang menunggu seseorang. Entah sehari, sebulan, setahun." Balasku tapi tidak menatap wajah polisi tersebut.
    "Baiklah nak." Polisi itu bangkit dan masuk ke dalam mobilnya. Lalu pergi.
    Dari kejauhan aku melihat seorang bapak-bapak didekat halaman sekolahnya Nadila. Aku berlari menembus hujan ke arah bapak-bapak itu. Mungkins aja dia tau kemana Nadila.
    "Pak...Pak..." Teriakku. Bapak tersebut menoleh ke arahku.
    "Pak, kenal sama yang namanya Nadila nggak? Murid kelad 3 disekolah ini." Tanyakku kepada bapak tersebut. Ia tampak berpikir sejenak.
    "Oh iya-iya Nadila ya?" Ucap bapak tersebut.
    "Iya pak iyaaa." Jawabku dengan semangat.
    "Dua hari yang lalu Nadila pindah sekolah dek." Balas bapak tersebut.
    "Kemana ya pak?" Tanyaku dengan hati yang hancur lebih dari berkeping-keping.
    "Wah saya kurang tau dek." Balas bapak tersebut. Aku terdiam dibawah derasnya hujan.
    "Ya udah permisi dulu ya." Ucap bapak tersebut. Aku masih diam sambil menunduk dibawah hujan yang lama-lama makin deras.
    Aku berjalan lesu kembali ke halte depan sekolah. Sesaat wajah dan senyum Nadila terlintas didalam pikirku.
    "NADILAAA!!!" Teriakku ke arah jalanan yang sepi. Air mataku pun bercampur dengan air hujan yang turun.
    "NADILAAAAA!!! Aku akan setia menunggu kamu di Halte Depan Sekolah ini."

                                                              ***
Writer : Zaky Yusril Rais (@Zakyyrais)
Inspirated by @Nadila_JKT48

                                               THANKS YOU FOR READING

Tidak ada komentar:

Posting Komentar