Jejak Idola Pesawat
Senin pagi itu cuaca sangat cerah, mentari bersinar dengan terang di temani awan yang lembut. Aku duduk di depan TV sambil menonton acara kartun favorite ku. Tiba-tiba handphone ku bergetar.
“Bro, temenin ntar ke Mall Blablabla dong.” Isi sebuah SMS dari teman ku.
“Mau ngapain main di mall ? Shooping ? Rempong deh lu.” Balas ku.
“Lu rempong. Gini, jadi ada Meet n Greet JKT48 disana, dan ada oshi gue. Kalo gue pergi sendiri males ah, lu temenin ya. Kan lu juga tau JKT48 tuh.” Balasnya lagi.
“Iya deh, jam berapa ?” Balasku. Aku tahu ini adalah kesempatan yang langka untuk teman ku bertemu Idolnya, apa boleh buat demi kebahagian seorang sahabat juga.
“Jam 1 siang ntar kok.” Balasnya. Aku melihat ke arah jam dinding yang menunjukan pukul 11.
“Boleh deh, jeput aja ntar.” Balasku.
“Siap.” Aku masuk ke kamar dan segera bersiap lebih awal. Setelah itu Aku makan siang dan berangkat.
“Gue berdebar nih.” Ucap temanku saat dalam perjalanan ke Mall Blabla.
“Kaya mau ngelamar anak orang aja lu.” Balas ku singit.
“Yee kalo boleh udah gue lamar deh, tapi sayang ada Aturan Anti Cinta.” Balasnya sambil memperbaiki rambutnya.
“Tungguin aja ntar di masa depan.” Balasku, lalu kami sama-sama terdiam.
15 menit perjalanan kamipun sampai di Mall Blabla, Aku mencari parkiran lalu segera bergegas masuk.
“Bisa woles ga sih, giliran sekolah aja kalo berangkat di sengajain banget telat.” Ucapku yang berjalan di belakang teman ku.
“Ini penting bro.” Balasnya tanpa sedikitpun menoleh pada ku. Aku hanya diam.
“Terus sekolah ga penting gitu ? Cape deh.” Ucapku dalam hati.
Sesampainya di Mall Blabla, lebih tepatnya di lantai 4 sudah penuh dengan Fans JKT48. Teman ku pergi menemui seorang Staff untuk menannyakan info dan tata cara masuk ke dalam. Setelah itu dia berjalan ke arah ku.
“Kenapa ?” Tanya ku.
“Gue lupa bawa dompet.” Ucapnya dengan wajah datar, Aku hanya terdiam dan mengeluarkan dompet ku.
“Mau pake berapa lu ?” Tanya ku.
“200 ribu aja kok.” Balasnya sambil tersenyum, Akupun memberikanya 2 lembar uang 100 ribu.
“Besok gue ganti yaa.” Balasnya sambil pergi membeli sejenis tiket. Lalu berjalan lagi ke arah ku.
“Apa lagi ? Jangan bilang lu lupa bawa nafas.” Ucapku bercanda.
“Ga bro, temenin gue ke dalam dong. Kalo gue pingsan kan ntar ada yang nolong.” Pintanya.
“Sumpah ya lu repot banget, ya udah deh. Emang di dalam ada berapa member ?” Tanya ku.
“Cuma ada 2 kok, Ikha sama Yona.” Balasnya.
“Yaa udah deh gue temenin.” Aku dan temanku pergi membeli 1 tiket lagi untuk ku, dan kami masuk berdua ke dalam sebuah ruangan yang cukup luas, tapi tidak bisa di pakai untuk bermain sepak bola atau golf.
“Gue ga paham, jadi ntar gue diem aja ya.” Ucapku.
“Iya.” Balas temanku yang sepertinya makin berdebar.
Sesaat kemudian kami sampai di hadapan 2 gadis cantik yang bernama Dena dan Octi. Temanku berdiri di depan Octi dan Aku berdiri di depan Dena. Temanku mulai ngobrol dengan Octi, sedangkan Aku dan Ikha hanya saling terdiam dan tatap-tatapan.
“Lu jangan diem aja bego.” Bisik temanku. Aku hanya tetap terdiam, memandang wajah Dena yang sedari tadi juga diam dan tersenyum pada ku. Matanya hilang jika tersenyum, membuat paras wajahnya menjadi makin cantik.
“Cantiknya super banget, melebihi salam super Mario Teguh.” Ucapku dalam hati.
“Hallo namaku Dena Siti Rohyati. Salam kenal dan senang bisa ketemu kamu.” Ucapnya yang membuat ku sedikit terkejut.
“Haa, iya-iya salam kenal juga.” Balasku sambil tersenyum. Dena juga tersenyum.
“Terimakasih ya sudah datang.” Ucap Dena lagi.
“Iya sama-sama.” Balasku singkat.
“Kamu lucu deh.” Ucap Dena yang membuat wajah ku merah.
“Ahahaha biasa aja kok.” Balasku malu-malu kucing.
“Aku ga bohong kok, mata kamu kalo senyum juga ilang, sama kaya Aku.” Kami sama-sama tertawa.
“Disini berapa hari ?” Aku mulai merasa tenang bersama Dena.
“Sekarang Senin ya, berarti Aku pulang hari Selasa sore ntar.” Jelasnya panjang kali lebar.
“Ohhh, udah jalan-jalan keliling daerah sini belum ?” Tanya ku lagi.
“Belum nih.” Wajah Dena jadi cemberut.
“Jalan-jalan dong.” Balas ku sambil tersenyum.
“Ga ada yang mau nemenin, ini bukan kode lho ya.” Aku dan Dena kembali tertawa lepas. Aku dan Dena saling ngobrol banyak hal.
“Bro waktu kita udah habis nih.” Bisik teman ku saat Aku dan Dena sedang asik ngobrol.
“Aku pamit ya.” Ucapku pada Dena.
“Yaaah..” Wajah Dena jadi sedih lagi.
“Hmmm kalo kita jodoh pasti ntar ketemu lagi kok. Ini juga bukan kode ya.” Balasku lalu berjalan keluar. Ikha tersenyum simpul.
“Terimakasih, semoga kita ketemu lagi yaa.” Sorak Dena sambil melambaikan tangannya pada ku.
“Dena cantik ya.” Ucapku pada temanku saat kami sudah di luar.
“Octi lebih. Kayanya lu udah terserang Virus Berbentuk Hati nih.” Senggol teman ku.
“Acaranya selesai jam berapa sih ?” Tanya ku.
“Ini udah selesai kok. Ehh gue cabut duluan ya, mau ketemuan sama gebetan dulu. Ntar di ceburin ke laut gue kalo ga datang.” Ucap teman ku. Aku hanya mengangguk.
“Hufttt.” Aku menghela nafas dan berjalan ke Toilet.
Aku terdiam di depan kaca Toliet, Aku tidak tahu apa yang ku pikirkan. Tapi Dena selalu terbayang. Matanya yang sipit jika tersenyum, suaranya yang lembut, dan wajahnya yang cantik.
“Acaranya selesai sekarang, hmm.” Aku kembali menghela nafas dan berjalan keluar. Di luar tidak sengaja Aku menabrak seorang perempuan yang mengenakan Jaket berwarna merah.
“Ehh maaf mbak saya ga sengaja, ga apa-apa kan ya ?” Tanya ku pada gadis berjaket merah tersebut. Ia mengangkat kepalanya sambil tersenyum.
“Ga apa-apa kok.” Wajahnya berubah menjadi kaget.
“Dena!”
“Kamu!” Ucapku dan Dena serentak. Dena menarik tangan ku dan berlari ke parkiran.
“Aku mau kamu ajak jalan-jalan!” Pinta Dena pada ku.
“Tapi..” Belum selesai Aku bicara Dena kembali meneruskan kalimatnya.
“Buat Aku merasa jadi gadis biasa untuk beberapa jam saja. Karena aku pengen rasain ini sekali aja.” Pinta Dena.
“Baiklah.” Aku dan Dena masuk ke dalam mobil ku.
“Tuhan jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan Aku. Biarkan aku tidur selamanya.” Ucapku dalam hati.
*
“Nonton yuk.” Ajak Dena.
“Boleh. Iron Man 3 yuk” Balas ku singkat, dalam otak Aku sedang berpikir agar Dena aman, tapi tetap merasa menjadi gadis biasa.
“Kamu kok serius banget ? Marah ya Aku ajak kabur ?” Tanya Dena.
“Engga kok.” Kami saling tersenyum.
“Aku juga suka Iron Man, hehe.” Sambung Dena sambil tertawa.
Selama 3 jam lebih kami menghabiskan waktu untuk nonton, jalan-jalan, dan makan malam. Sekarang saatnya Aku mengantar Dena pulang ke hotel.
“Ntar Manager kamu ga marah ?” Tanya ku yang sangat cemas.
“Aku bisa atur, kamu aman kok. Terimakasih ya udah ajak Aku jalan-jalan. Besok boleh lagi ya.” Pinta Dena. Akupun tak dapat menolak.
“Berhenti di gerbang aja ya.” Pinta Dena, Aku pun menepi dan berhenti di depan hotel tempat Dena menginap sampai besok.
“Sekali lagi terimakasih, besok jam 10 pagi Aku tunggu kamu di gedung sebelah hotel ya.” Ucap Dena yang sudah berdiri di luar. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
“Ehh kamu benar ga apa-apa kan ?” Tanya ku lagi.
”Iya engga apa-apa kok.” Dena tersenyum untuk meyakinkan ku bahwa semua akan baik-baik saja.
“Oke, besok Aku jemput ya.” Ucapku.
“Iya. Pulang sana, hati-hati di jalan.” Dena melambaikan tangan dan tersenyum. Akupun tancap gas pulang ke rumah.
Setelah sampai di rumah Aku segera masuk ke kamar dan mandi. Lalu Aku duduk di dekat jendela kamar ku. Saat ku melihat awan, wajah Dena lah yang terlihat.
“Ini serasa mimpi.” Ucapku yang masih tidak yakin dengan apa yang terjadi hari ini.
“Sumpah ini kaya di film-film aja deh. Hmm tapi Dena tetap seorang Idola! Ga lebih! Ga akan pernah lebih!” Ucapku lagi yang sekarang berbaring di kasur ku. Tanpa tersadar, Akupun terlelap.
***
“Mau kemana kak ? Jam segini udah rapi ?” Tanya mama ku.
“Ada acara ma.” Ucapku sambil mengambil kunci mobil dan meminum segelas susu.
“Jangan lama-lama lho, besok udah harus balik sekolah.” Ucap mama ku lagi.
“Iya ma, Aku berangkat dulu ya.” Akupun menstarter mobil dan melesat ke sebelah hotel penginapan Dena kemarin malam.
Dari jarak kurang lebih 10 meter Aku bisa melihat Dena yang berdiri sendiri di depan gedung perkantoran yang sepi itu.
“Udah lama ?” Tanyaku saat Dena sudah masuk ke dalam mobil.
“Engga kok.” Balas Dena singkat.
“Hari ini kita kemana ?” Tanya ku.
“Jalan-jalan aja, soalnya ntar jam 3 sore Aku harus balik ke Jakarta.” Wajah Dena kelihat sedih.
“Oke berarti kita punya 4,5 jam buat jalan-jalan. Aku akan buat kamu rasain jadi gadis biasa. Aku janji!” Balasku meyakinkan Dena.
“Terimakasih.” Balas Dena singkat. Dan ia tersenyum. Indah sekali.
Aku dan Dena memilih untuk jalan-jalan ke taman, lalu selanjutnya kami makan siang, dan terus jalan-jalan lagi. Banyak hal yang Aku ketahui tentang Dena, dan banyak hal juga yang tidak Aku paham.
“Kamu senang ga ?” Tanya ku pada Dena.
“Senang banget.” Dena tersenyum lebar.
“Aku takut.” Ucapku pelan.
“Takut apa ?” Tanya Dena menatap ku dari samping.
“Takut ga bisa lihat senyum kamu lagi.” Dena menggenggam tangan kiri ku, dan tersenyum. Aku hanya terdiam. Dada ku berdebar saat itu.
“Kenapa kamu minta ingin jadi gadis biasa ? Emang jadi Idol buat kamu jadi gadis kaya apa ?” Tanya ku kepo.
“Engga apa-apasih, kalo jadi Idola ya Aku emang harus jadi seorang Idol buat para Fans, terkadang Aku susah buat jadi diri senidri, makanya Aku minta tolong kamu buat Aku rasain jadi gadis biasa, meski ga buat selamanya. Tapi saat sama kamu aku bahagia.” Jelas Dena panjang lebar. Aku hanya tersenyum.
“Sekarang kamu balik ke hotel ya. Aku tunggu di bandara oke.” Wajah Dena kembali sedih.
“Jangan sedih dong.” Pinta ku pada Dena. Dena menggelengkan kepalanya sambil menunduk.
“Kalo kamu sedih ntar kita ga bisa ketemu lagi.” Ucapku lagi, Dena mengangkat kepalanya dan tersenyum.
“Suatu tempat mungkin kita akan bertemu lagi.” Ucapku Dena. Aku hanya tersenyum.
Kamipun sampai di Hotel, Dena turun, dan kami sempat sedikit ngobrol. Aku sangat takut saat itu, buka pada Managernya, tapi pada waktu yang tinggal sedikit ini.
“Aku ke bandara duluan ya.” Ucapku.
“Ga usah, kamu pulang aja.” Balas Dena.
“Engga ah, Aku mau ke bandara.” Tegas ku.
“Ya udah.” Dena mebisikan ku nomor dan jam penerbangannya dengan lengkap.
“Oke. See you.” Ucapku dan melesat menembus terik matahari ke bandara.
“Aku tidak ingin melewatkan satu detikpun untuk bersama Dena. Untuk menatap wajahnya.” Bisik ku.
*
Aku menunggu Dena dengan hati yang gelisah. Ntah kapan aku bisa membawanya kabur lagi, untuk menjadikannya gadis biasa untuk sesaat. Dalam hati aku ingin menyentuhnya lebut, tapi tidaklah mungkin bagi ku.
“Di sebelah bandara ada sebuah lapangan yang sepi, aku tunggu kamu disana ya.” Sebuah DM masuk ke twitter ku, dan itu dari Dena. Aku segera bangkit dan pergi ke tempat yang dimkasud Dena.
“Dena.” Panggil ku, Dena membalikan badanya dan tersenyum.
“Hati-hati di jalan ya, jaga kesehatan juga, dan belajar yang rajin.” Ucapku lagi.
“Kamu juga ya, aku tunggu di Jakarta kok.” Ikha tersenyum, meski aku tahu itu palsu.
“Iya. Ya udah kamu masuk sana.” Pinta ku pada Dena, ia tersenyum. Aku ingin menggenggam tangan Dena, tapi keingin itu aku urung dalam-dalam.
“Benar ya ntar ke Jakarta.” Ucap Dena lagi.
“Iya-iya.” Aku tersenyum simpul.
“Ya udah aku pamit ya.” Dena beranjak meninggalkan ku.
“Kau idola ku, dan sampai kapan pun tetap Idola ku.” Bisik ku dalam hati. Dena menoleh dan tersenyum lagi pada ku.
“Bye.” Aku melambaikan tangan ku, begitu juga dengan Dena. Saat itulah aku mulai merasa kesepian. Sangat sepi.
Sekarang aku berdiri sendiri di tempat ini. Sepi dan sunyi menghantam perasaan ku. Aku tersenyum simpul. Angin yang lembut bertiup pelan, Ikha menghilang di antara keramaian. Ntah kapan kami akan bertemu lagi. Apakah Esok ? Esok lagi ? 1 tahun lagi ? 2 Tahun lagi ? Atau tidak akan pernah lagi ? Ntahlah, hanya Tuhan dan waktu yang tau semua itu.
“Cinta itu jejak pesawat, selintas lalu membekas, setelah itu memudar, dan hilang...”
***
Writer : Zaky Yusril Rais (@Zakyyrais)
Inspirated by @Dena_JKT48

Tidak ada komentar:
Posting Komentar