Sabtu, 16 Maret 2013
You And I [Inspirated by @DelimaJKT48]
YOU AND I
Dipagi hari seorang cewek datang ke rumah gue, saat itu masih Nyokap gue yang membukakan pintu rumah. "Ada ____ nya tante? Aku mau ngajak dia main ke taman". Tanya cewek itu kepada nyokap gue.
"Ada kok, bangunin aja gih ke kamarnya, mungkin dia masih tidur, kayaknya tadi bergadang nonton bola bareng temannya". Ucap nyokap gue kepada cewek tersebut.
"Oke tante, maaf ganggu ya". Cewek itu tersenyum kepada nyokap gue dan langsung menuju kamar.
"Ssst, bangun dong! Katanya mau nemenin aku ke taman. Aku nggak mau ke taman sendiri kalau nggak sama kamu, bangun ya". Ucap seorang cewek bernama Delima.
"Ini jam berapa sih? Ini masih pagi banget Del, ngapain ke taman?". Ucap gue berantakan karena masih ngantuk. Delima pun diam sejenak.
"BANGUUUN! ADA KEBAKARAAANNNNN". Teriak Delima dikuping gue.
"Eh buset dimana?". Gue segera bangkit dari tempat tidur dengan wajah panik setengah mati.
"Hahaha, tampangnya eksotis banget". Delima tertawa melihat gue. Gue segera menoleh ke arah Delima.
"Jadi ini bohong?". Gue bertanya sambil masih panik.
"Iya haha, ini cuman bohongan kok". Delima masih tertawa puas.
"Gue ngambek". Ucap gue sambil kembali tidur. Delima terdiam melihat gue. Wajahnya tampak kesal.
"Ih nyebelin deh, masa gitu aja ngambek, bangun dong". Ucap Delima sambil nyubit gue. Gue mengacuhkannya, Delima bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar gue.
"Eh, Delima mau kemana? Hahaha". Gue juga tertawa puas melihat Delima yang manyun.
"Ih jelek banget sih". Gue ngeledeknya.
"Aku juga ngambek". Ucap Delima sambil menatap ke arah gue.
"Nggak akan jadi ke taman nih?". Gue ngebujuk dia. Delima pun menoleh sambil tersenyum kepada gue.
"Jadi, jadi, jadi". Balas Delima dengan semangat.
"Cium dulu pipi gue dong". Gue ngegodain Delima.
"Ih enak aja, yang ini mau hah?". Delima mengepalkan tangannya, dan pergi ninggali gue.
"Aduuuh, cantik cantik tapi ganas ya". Gue membalas sambil berjalan mengambil handuk lalu mandi.
Gue dan Delima adalah teman dekat sejak dulu dan satu sekolah, tapi kami berbeda 1tahun. Jadi kami seperti kakak-adik, padahal nggak. Gue nggak mau kalo harus menjadi adiknya Delima, tapi gue ingin menjadi sepasang kekasih. Gue ingin mengutarakan perasaan ini, tapi Delima itu orangnya terlalu cuek dan mungkin tidak peka akan perasaan yang gue punya. Jadi biarlah gue pendem saja perasaan ini.
"Lama banget make-up nya". Teriak Delima dari luar kamar.
"Enak aja! Siapa yang make-up?". Gue buka pintu kamar.
"Abisnya lama banget sih, aku pikir kamu make-up dulu". Balas Delima sambil berjalan disamping gue.
"Ya udah hayu ke taman, mau jalan kaki atau naik motor? Jalan kaki aja ya biar sehat". Gue bertanya kepada Delima.
"Iya deh hayu, asalkan jadi aja". Balas Delima secara singkat.
Kamipun berjalan bersama ke taman, Delima memegang tangan kanan gue. Dan gue hanya bisa diam merasakan yang namanya *oh ini indahnya dunia* dan yang rasanya milik kita berdua.
"Delima rajin banget sih tiap hari Minggu ke taman terus, nggak bosan apa?". Tanya gue kepo pada Delima, karena Delima sering pergi ke taman dan sering ngajak gue, hampir beberapa kali. Tapi gue hari Minggu itu kadang pergi ke rumah temen untuk ngumpul main, dan kadang juga sering Prepare untuk mengisi acara Band disuatu tempat.
"Nggak bosan kok, ditaman itu seru. Tapi kamu selalu nggak ada kalo Aku ngajak kamu pergi ke taman, yaudah Aku kadang nggak jadi pergi dan kadang juga bareng temen cewekku. Kayaknya kamu nggak mau nemenin Aku ke taman ya?". Balas Delima.
"Hah? Apa? Gue mau kok nemenin kamu jalan-jalan tiap hari Minggu ke taman, apalagi kalo tiap hari. Tapikan gue kadang sibuk del, ini-itulah ada panggilan dari beberapa temen". Balas gue dengan bangga.
"Cieeelah, iya kok Aku ngerti". Ledek Delima.
Kamipun sampai ditaman, gue duduk disebuah kursi taman dibawah pohon yang cukup rindang dan sejuk, hawanya cukup untuk tidur haha. Delima sibuk berjalan kesana-kemari bersama kelinci-kelinci yang ada ditaman ini.
"Hey pemalas ayo kesini, kok bengong ngeliatin Aku?". Teriak Delima kepada gue. Gue menguap sambil pergi ke tempat Delima jongkok.
"Ada apa Delima yang cantik?". Tanya gue kepada Delima.
"Ayo temenin Aku main dong ah". Pinta Delima.
"Iyadeh siap komandan, gue temenin nih". Gue hanya duduk sambil melihat Delima berlari-lari persis seperti anak 5tahun.
"Delima jangan lari-lari gitu, nanti jatuh lagi ah". Gue meminta kepada Delima. Tapi Delima mengacuhkan gue. Gue kembali duduk dikursi sambil menunduk membetulkan rambut gue.
"Aduh...". Delima merintih kesakitan. Gue segera bangkit dari kursi taman dan mencari Delima.
"Delima!". Gue berteriak melihat kaki Delima yang luka. Gue mendekat kepada Delima.
"Udah dibilangin jangan lari-lari, nggak ngedenger sih". Gue ngomel sambil niup-niup kaki Delima yang luka.
"Maaf deh, maafin dong". Ucap Delima yang tampaknya menahan rasa perih.
"Bisa jalan nggak Del?". Gue bertanya. Delimapun menggelengkan kepalanya.
"Ya udah deh gue gendong aja ya". Ucap gue kepada Delima. Delima pun diam sejenak terlihat kesakitan dan berpikir beberapa saat.
"Iya deh gendong Aku ya". Ucap Delima. Lalu gue pun menggendong Delima dipunggung gue, dan membawanya pulang.
"Berat ya? Maaf nyusahin". Tanya Delima saat perjalan pulang.
"Enggak kok Delima, biasa aja". Gue membalas dengan semangat sambil tersenyum.
Sesampainya dirumah Delima, gue langsung mengantarkannya masuk. Lalu gue mengambil obat untuk mengobati kakinya Delima yang luka. Nampaknya orangtua Delima sedang pergi dan dirumahnya tidak ada siapa-siapa kecuali Gue dan Delima. Hari sudah menunjukan pukul 4 sore, gue cukup merasa lelah. Namun Delima tertidur dipundak gue.
"You And I ...". Ucap gue didalam hati, sambil mengelus-elus rambutnya Delima.
Delima pun terbangun dari tidurnya. Delima menoleh ke arah gue, yang ikut juga tertidur.
"Hey banguuun". Ucap Delima pelan seperti berbisik. Gue kaget dan langsung segera bangun.
"Eh Delima, kenapa?". Gue bertanya kepada Delima.
"Enggak apa-apa kok. Temenin Aku keluar dong". Pinta Delima.
"Iya cantik hayu". Ucapku sambil memegang tangan Delima. Dan hari ini sudah menunjukan pukul 7.23 malam.
"Mau ngapain disini Del?". Gue bertanya kepada Delima.
"Nggak mau ngapa-ngapain kok hehe". Ucap Delima. Gue hanya mengangguk-ngangguk. Kami hanya diam memandang langit yang sudah gelap penuh bintang.
"Del, tipe cowok kamu itu kayak gimana sih?". Gue bertanya kepo.
"Gimana ya? Romantis dan bisa ngegitar". Balas Delima.
"Gue romantis dan bisa ngegitar loh Del". Balas gue sambil tersenyum.
"Wah iya? Masa sih? hehe". Delima tertawa kecil.
"Aku juga suka sama cowok yang bisa masak hehe". Delima tertawa lagi.
"Hah? Masak?". Gue agak sedikit kaget. Karena fix 75% gue tidak terlalu pandai masak, kecuali masak mie, telor, dan air haha.
"Loh? Kenapa? Kayak yang kaget gitu?". Tanya Delima kembali.
"Nggak apa-apa kok Del". Gue hanya terdiam dan berpikir sejenak untuk melakukan sesuatu untuk Delima.
"Oh iya, Del gue pulang dulu ya. Udah malam nih, kamu masuk rumah ya terus makan oke dan jangan lupa obatin tuh luka kamu ya". Pinta gue kepada Delima.
"Kamu nggak akan makan bareng Aku?". Tanya Delima.
"Nggak usah Delima, Besok malem aja oke. Yaudah cepet masuk gih." Ucap gue pada Delima. Delimapun masuk dan saat sampai di gerbang rumahnya, Delima melambaikan tangannya kepada gue. Gue tersenyum dan pulang ke rumah.
Sesampainya dirumah, gue membuka laptop dan membuka google. Gue mencari banyak hal tentang masak-memasak.
"Gila ribet semua, nggak ada yang instant-instant apa?". Gue mulai pusing melihat resep makanan yang rumitnya melebihi tugas matematika gue. Gue mencari-cari hingga gue menemukan sebuah resep yang murah tapi kelihatannya enak. Dan gue rasa Delima pasti menyukainya.
"Nah, ini nih!". Gue mencopy+paste resep tersebut dan mensavenya. Lalu gue tidur untuk memulai pertempuran di dapur sepulang sekolah besok".
"Huaaahhh". Gue menguap dan beranjak dari tempat tidur, lalu mandi. Setelah itu gue bergegas untuk pergi ke sekolah. Disekolah gue jarang bertemu dengan Delima karena gue adik kelasnya dia. Jadi ya dia bermain dengan teman-temannya. Tapi sesekali gue sering melihat Delima jajan dikantin sekolah dan Delima sering melihatku bila bermain bola dilapangan sekolah jika jam Extrakulikuler.
Sepulangnya dari sekolah gue langsung ganti baju dan membawa kunci motor untuk ke supermarket membeli bahan-bahan yang ada di resep semalam.
"Mau kemana kak?". Tanya adik gue.
"Apaan sih lu? Pengen tau aja urusan kakak lu". Ucap gue sambil menyalakan motor, lalu berangkat.
Tak lama kemudian gue sampai di supermarket. Lalu gue masuk dan membeli bahan-bahan yang gue butuhin. Sebelum gue pulang ke rumah, gue pergi dulu ke toko buku yang nggak jauh dari supermarke. Gue bertujuan untuk mencari tips-tips yang akan gue butuhkan saat memasak untuk Delima nanti. Dan membeli boneka Stitch untuk memberikan hadiah kepada Delima.
"Nah udah beres, tinggal pulang deh". Ucap gue sambil menaiki motor dan pulang.
"Weh belanja apaan kak?". Adik gue kembali bertanya.
"Bener-bener kepo lu jadi orang. Udah urusin aja game kesukaan lu itu". Gue berucap sambil meninggalkan adik gue yang pergi ke kamarnya.
"Pertama-tama ngapain dulu nih?". Ucapku entah kepada siapa, mungkin ke tembok dapur. Gue melihat list daftar bahan dan cara-cara membuat makanan ini, gue nggak tau namanya apa. Mungkin gue akan tau setelah jadi nanti. Gue pun mulai meracik bumbu-bumbu.
"Tidak terlalu sulit ternyata". Ucap gue so bisa.
"Kakak, ngapain kamu main di dapur? Nanti rumah meledak lagi". Teriak bokap gue dari ruang makan.
"Masak pah, tenang aja nggak akan meledak pah". Gue membalas meyakinkan bokap gue.
"Ya udah". Balas bokap gue lalu menghilang entah kemana.
Gue kembali fokus ke masakan ini yang sudah di pertengahan ini, enak nggak enak yang penting ikhlas.
"Sedikit lagi ayooo". Gue berucap. Step terakhir, masakanpun jadi.
"JADIII!!!". Teriak gue dari dapur. Adik gue pun datang dari belakang dan mencicipi masakanku tanpa disuruh.
"Wuihhh canggih kak, ini buatan siapa? Beli ya kakak?". Ucap adik gue tidak yakin.
"Enak aja, ini buatan gue!". Gue merebut masakan gue dan menyimpannya".
"Nah masakan udah beres, ternyata cocoklah gue jadi anak band sekaligus menjadi chef". Ucap gue seikit bangga.
Gue berjalan ke belakang rumah, gue perhatikan ke halaman rumah melihat sekeliling. Gue berpikir sejenak dan tiba-tiba nyokap gue datang.
"Dek, papa, mama, dan kakak mau ke acara temen papa nih. Kalian mau pada ikut nggak?". Tanya nyokap gue kepada gue dan adik gue.
"Hah? Enggak deh mah, kakak lagi sibuk". Gue menjawab so sibuk. Dan ternyata adik gue ikut dengan mereka.
"Ya udah, jaga rumah ya". Ucap nyokap gue lalu meninggalkan gue. Gue hanya mengangguk.
Gue mulai melakukan sesuatu pada halaman belakang rumah gue ini. Gue menghiasnya secepat mungkin dengan berbagai pernak-pernik. Setelah selesai menyiapkan segalanya, gue segera mandi. Hari menunjukan pukul 6 sore.
Lalu gue pergi ke rumah Delima untuk menjemputnya. Sebelumnya gue udah buat janji dengannya untuk makan malam bersamanya diluar malam ini.
"Assalamualaikum, ada Delima?". Ucap gue didepan gerbang rumahnya.
"Ada kok adaaa". Ucap Delima sambil tertawa kepadaku.
"Hayu Del kita jalan". Gue ajak kepada Delima. Saat sudah sampai dirumah gue, gue langsung menutup kedua matanya Delima.
"Ngapain nih? Jangan macem-macem". Tanya Delima penasaran karena gue menutup kedua matanya.
"Udah jalan dulu aja". Gue berucap sambil terus menutup kedua mata nya Delima.
Kami pun sampai di halaman belakang rumah gue, dan gue membuka kedua mata Delima.
"Taraaa engingeng". Ucap gue kepada Delima dan wajah Delima tampak terkejut.
"Waaah bagus banget, ngagumin banget". Ucap Delima senang.
"Ini kamu yang ngerjain semuanya?". Tanya Delima.
"Iya dong silahkan duduk Delima yang manis dengan pipi bolongnya". Gue berucap sambil menarik sebuah kursi untuk Delima. Kamipun makan malam berdua di halaman belakang rumah gue.
"Ini makanan beli dimana? Enak banget". Ucap Delima
"Itu buatan gue sendiri Del". Ucap gue sedikit kecewa.
"Wah ternyata kamu bisa masak? SUGOIII!". Puji Delima. Gue hanya tersenyum.
Setelah selesai makan, gue dan Delima ngobrol. Entah mengapa gue nggak mau kalo malam ini berakhir.
"Ini buat kamu Delima". Ucap gue sambil memberi boneka Stitch.
"Wah makasih yaaa, kamu baik banget". Delima tersenyum seneng.
"Eh iya nih, ini juga buat kamu". Ucap Delima sambil memberiku sebuah kotak persegi panjang warna biru.
"Apaan ini Del?". Gue bertanya penasaran.
"Buka aja". Ucap Delima sambil tersenyum. Gue pun membuka kotak itu dengan rasa kepo haha.
"Wahahaha". Gue tertawa melihat isi kotak itu. Isinya adalah sebuah jam tangan warna hitam.
"Semoga suka ya". Ucap Delima.
"Suka, suka, suka banget malah. Gue pake ya". Gue memakai jam tangan pemberian Delima.
"Oh iya Del, Gue harap di setiap detik jam ini, kita selalu bisa bersama. Just You and I, Forever and Ever!". Ucap gue kepada Delima sambil melihat keindahan halaman belakang rumah gue.
"You and I..."
***
Writer : Zaky Yusril R (@Zakyyrais)
Inspirated by DelimaJKT48
THANKS YOU FOR READING
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
kok cerita lo mirip (banget) sama cerita ini ya? >> http://utari-widri48.blogspot.com/2012/10/you-and-i-inspirasi-by-delimajkt48.html?spref=tw
BalasHapuswahaha "mirip" yaa ? wkwkws
Hapus